Selasa, 22 November 2011

goodbye lyric

Goodbye
Artist: L2M
OST- Waiting to See You Again (這裡發現愛)

Lyric @ http://5566lyrics.blogsome.com
I don’t know what to say
And why I feel this way
And when I think of you
I know it’s sad but true
Now that the bond is broken
Due to all the words that were spoken
And now I got to let go
This is what I want you to know
(Goodbye) Goodbye
(My friend) Oh my friend
(This time) This is the end
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We will meet again
I don’t know what to do
‘Cause now I’m here without you
How can I heal this pain
When all there is is blame?
I’m looking for a new sky
(Looking for a new sky)
So I can mend this broken heart
And now I got to let go
This is what I want you to know
(Goodbye Oh) Goodbye
(My friend) Yeah
(This time) This is the end Oh
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We will meet again
I cannot wait
For these tears to dry
I must move on now
And leave the pain inside
But just give me the strength
‘Cause I cannot wait
(Goodbye) Goodbye
(My friend) Oh
(This time) This is the end
(This is the end)
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We’ll meet again
(You’re all my friend)
(Goodbye) Oh (My friend)
(This time) This is the end
(This is the end) Oh
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We’ll meet again
I don’t know what to say
And why I feel this way

w.t.s.y.a "bukan review"

Sepertinya nggak banyak serial drama yang bercerita tentang kehidupan seorang penulis. Yang paling kuingat hanya korama Full House yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Rain. Ah, pasti banyak yang menonton korama ini. Seingatku bahkan Indosiar menayangulangkan sebanyak 2x. Apalagi ucapan Han Jie Eun "Rajin! Rajin! Semangat!" sempat populer di kalangan penggemar dramanya. Sang pemeran utama, Han Jie Eun diperankan sebagai seorang penulis novel. Sayangnya nggak banyak sisi penulis yang dipaparkan. Mungkin karena ada profesi lain yang lebih banyak diceritakan yaitu aktor, profesi sang suami - Lee Young Jae.

Lalu, kemarin malam, selepas menonton potongan film mandarin di Indosiar, aku melihat informasi tentang tayangan selanjutnya. Judulnya Wish to See You Again. Awalnya kukira sebuah film, ternyata drama Taiwan. Asyik asyik.. Baru episode perdana! Pas lihat opening drama-nya, ternyata pemainnya Vic Zhou, pemeran Hua Ze Lei di drama Meteor Garden. Beberapa personil F4 juga ikut main. Beberapa pemain yang lain juga lumayan kukenal. Cuma jadi berasa aneh aja. Drama yang pemainnya bagus2 gini kok tayangnya jam 11 malam. Nasibnya sama kayak Meteor Garden dulu. Tapi kalo sekarang kayaknya gegara faktor menjamurnya korama. Bahkan dorama yang dulunya jadi primadona pun tersisih. Jadi inget beberapa bulan lalu lihat dorama Hana Kimi jam 12 malam. Hwee...

Wish to See You Again sekali tayang langsung 2 episode sekaligus. Cerita dibuka dengan adegan di sebuah kamar. Seseorang duduk memandang layar laptopnya. Fokus banget. Lalu jemarinya mulai ketak-ketik di atas keyboard. Dari sini aku langsung bisa menyimpulkan bahwa sang pemeran utama adalah seorang penulis. Hwaa.... Makin semangat nonton deh! Apalagi rasa kantuk belum jua datang karena ba'da maghrib tidur sebentar.

Xu Le, adalah seorang penulis novel best seller yang menggunakan nama pena Ye Ce (gini ga yaa nulisnya?) dalam setiap karyanya. Meski sudah banyak buku yang ditelurkan, tapi ia kerapkali dihinggapi penyakit writer's block. Sudah berhari2 ia berdiam di kamar hotel bintang 5, The Sherwood. Ia bahkan melarang petugas kebersihan masuk untuk membersikan kamarnya yang berantakan. Sebulan lagi naskahnya sudah harus jadi, tapi ia baru menulis sebanyak dua halaman. Berbagai cara ia lakukan seperti minum vitamin otak, ngemil, hingga mencoba berbagai eksperimen dudul, sayangnya tak ada ilham yang hadir (entah kenapa bukan kata inspirasi yang dipakai).

Xu Le sempat putus asa. Ia menutup laptopnya, lalu berkata, "Daripada menhasilkan buku jelek yang akan ditertawakan orang, lebih baik jadi asap yang menghilang." Tapi saat ia melihat apel di meja kerjanya, ia teringat sahabatnya, Xiao Ma, yang mengatakan bahwa jika ia memegang apel, maka adrenalin akan terpacu dan ilham akan muncul. Ia pun mencobanya. Apel di tangan kanan, pisau di tangan kiri. Dan benar saja, tiba2 di atas kepalanya sudah ada rangkaian kalimat yang menari-nari. Xu Le sangat senang. Ia pun menari2 sambil masih memegang pisau. Kau tahu, melihat ekspresinya itu, aku jadi ingat diri sendiri. Seperti itulah ketika ide tiba2 datang. Bahagia tiada tara.

Sayangnya, kebahagiaan itu sirna demikian cepatnya seiring dengan kedatangan sang editor dan petugas hotel yang dipaksa membuka kamar Xu Le karena sang editor bilang kalau Xu Le mencoba bunuh diri. Xu Le masih menari2 dengan inspirasi di kepalanya serta buah apel dan pisau di tangannya. Hingga satu persatu kalimat di atas kepalanya jatuh ketika petugas hotel yang panik memintanya melepaskan pisau (serta apel) di tangannya. Hyaaa.. Sampai di sini aku pun merasakan kepedihan yang sama. Belum diikat, eh, si ide udah lepas.

Xu Le masih terus mencari ilham. Ia lalu menonton film di bioskop, jalan2 ke taman hiburan, tapi hasilnya nihil. Dalam keterpurukannya, ia teringat 2 orang sahabatnya semasa sekolah. Sahabat yang menjadi pembaca pertama novelnya. Salah satu pesan temannya menurutku sangat keren. Katanya, "Teruslah menulis! Mungkin inilah satu-satunya cara bagimu untuk bersuara keras pada dunia."

Seorang bibi yang menambah stok cemilan di kamarnya tanpa sadar memberinya inspirasi. Ia ingin menjadi sopir taksi. Dia pastinya akan banyak mendapat potret kehidupan dari obrolan dengan penumpangnya. Di dalam mobil sudah ia siapkan kertas dan pulpen untuk mengikat setiap ide yang masuk. Saat menjadi sopir itu ia tersadar, ternyata menjadi pengamat dan mengamati, serta masuk ke kehidupan orang lain itu susah juga. Namun psikiater yang menjadi tempat ia menumpahkan banyak tanya menasehatinya, "Yang penting kau harus memahami. Menyelami semua yang kau lihat.

Huff.. Huff.. Capek... Udahan aja ah ceritanya. Ini jurnal udah panjang juga kan yaa? Intinya sih suka sama 2 episode pertama ini. Entah episode selanjutnya bagaimana. Khawatir terlalu dramatis dan nggak lagi menceritakan likaliku seorang penulis. Biasanya drama yang lain begitu, kan? Pastinya drama ini memang mengangkat tema cinta dan persahabatan. Bagi para nokturnal, silakan menonton drama ini. Di sini Vic Zhou berperan cukup baik sebagai seorang penulis. Dan dia, emm, terlihat so cute! Hohoho....

sinopsis w.t.s.y.a

Berkisah tentang Xu Le (Vic Zhou), penulis novel bestseller yang tak pernah meninggalkan rumah.
Belakangan, ia mengalami kebuntuan ilham dan berniat mencari informasi. Ia lantas bekerja sebagai sopir taksi dengan harapan mendapat inspirasi dari obrolan dengan penumpang yang diangkutnya.

Secara tidak sengaja, Xu Le bertemu Ah Hao (Ken Zhu), teman sekelasnya semasa SMA yang juga sopir taksi. Pertemuan ini mengingatkan akan kenangan pada Lu Yi (Terri Kwan), teman sekolah yang sempat mereka perebutkan.

Lu Yi yang kini menjadi redaktur mode di sebuah majalah, juga menjadi incaran Ma Yong Rui / Xiao Ma (Kingone Wang), pewaris hotel bintang lima yang dulu juga satu sekolah. Suatu hari, Xu Le berkenalan dengan Pan Neng Xian (Michelle Chen) yang menjadi penumpangnya.

Meski anak orang kaya, Neng Xian yang fresh graduate memilih mencari uang sendiri dengan bekerja sebagai PR assistant di hotel milik Xiao Ma. Xu Le yang awalnya hanya berniat mencari inspirasi, kini dihadapkan pada konflik cinta dan persahabatan.

my w.t.s.y.a

Xu Le (許樂) is a bestselling author who never left home. He was recently struck with a case of writer's block and decides to search for inspiration. So he decides to work as a taxi driver hoping that by listening to his passengers; he'll be struck with some inspiration. Coincidentally, Xu Le meets his high school classmate, Ah Hao (阿豪), who is also a taxi driver. Xu Le has not seen Ah Hao for years. Ma Yong Rui (Xiao Ma - 小馬) is an heir to a five-star hotel and is also Xu Le's and Ah Hao's old classmate. Lu Yi (陸怡) is now a fashion magazine editor and she was the dream girl that they all wanted. Pan Neng Xian (潘能賢) is a 24 year old girl who recently graduated from college, who gets a job as a PR assistant in Yong Rui's five-star hotel.

Cast


Extended Cast


puisiku

kjhdlkhsfliwshflqw

Rabu, 16 November 2011

A little write"Wish to See You Again"

I'm currently watching this drama.
What I really like about this drama is the way they make it beautiful... okay I'm not talking about the cast I'm referring to the various locations  they show us. Seriously I've been thinking back then I haven't seen anything like this. I've been wondering too if Taiwan really have beautiful place to go... but after watching this drama I've put Taiwan on the list in my traveling list... wish to see more like this soon.

So is this drama okay for me? yes... I think so since I'm still watching it so I'll say it's great. Guess what make you wanna watch it... all the cute guys are there... Vic Zhou, Ken Chu, Kingone Wang, Vannese Wu.... and yeah the female lead is cute too... I should say perfect match... I'm not bias but Vic and Chen Yan Xi really look cute together...





I'm still trying to finish it... so i don't really know how the ending will be... all i can say is...  I'm quite satisfied.


I quoted this reviews from Andy Chrono:
The reason why I quoted it is because I'm agreed with the writers in various way... what I thought and what I want to say been written greatly by the writer so what's the point of writing more if there is someone else who pointed it perfectly... I'm not copying it I just quoted it and that's mean I really admired the writer. All I add here is the pic. ^^ 
Wish To See You Again

Reviewed by: AndyChronoDetails (Spoiler Warning!):
A. Characters:


 Vic Zhou as Xu Le 
Xu Le is a best-selling author struggling with a bad case of writer's block. Growing up as an orphan, he naturally developed an introverted personality, making him seem weird at times and awkward when interacting among other people. He has only two friends in his life: Xiao Ma and Ah Hao. To put it succinctly, this is the best character in the series. He's complicated and has great depth for the actor to explore. Vic Zhou does an incredible job here, as every little facial feature is performed flawlessly. The awkwardness and weirdness is pulled off with just enough weight to give it credibility without going too over-the-top to the point where it's no longer believable.

Chen Yan Xi as Pan Neng Xian 

Basically the girl next door. Some may complain that this is a cliche or stereotype. This is a fair criticism but the reality is that most young women in Taiwan probably have a very similar life to the Neng Xian character: just out of college, trying to find a job via internship, exploring dating, etc. Thus I personally have no problem with common characters like this because they represent reality. Michelle Chen fits the role like a glove. First off, she looks the part of the girl next door. Secondly, she doesn't overdo some of the funny or serious moments but instead strikes the right balance so that it's entertaining while still believable in the context of the girl next door.

Ken Zhu as Ding Yu Hao 

At first, I thought it would be another "friend who disappeared and suddenly came back" character. But the underlying reasons for his disappearance is hinted and then explored very well. I won't reveal too much here, but suffice to say the character's background is complicated and interwoven very well with the other main characters. As for Ken Zhu, I personally found him to be the only weak link among the main actors. He doesn't express the character's tortured past and shame very well, and does a bit too many blank stares from time to time. The only difference between his various emotions was the loudness of voice. Ken didn't do a very good job of communicating through the eyes and facial features and body language.


Kingone Wang as Ma Yong Rui 

The character is a standard one: the sibling that is always compared to and falls short of the standards set by his older sibling. While certainly cliche, it's also a character type that represents reality. Most people with siblings have probably had some kind of rivalry or comparison done by parents or others. Xiao Ma here plays a manager of a 5-star hotel run by his older brother. Kingone does an excellent job in showing us the upbeat and casual Xiao Ma. He's also excellent in the sobering scenes. Suffice to say this guy has come a long way since Devil Beside You.


Terri Kwan as Lu Yi 

Childhood classmate of the three friends Xu Le, Xiao Ma, and Ah Hao. Was the school beauty that all the boys wanted to date. Now works at a news company. She has ties to all 3 friends which are slowly explored through the story. The Lu Yi character is the hub around which the three friends turn. Their relationships toward her and one another change dramatically over the course of the show. She can thus be labeled as the catalyst or driving force behind a significant portion of the show's plot. This kind of character is the most difficult to express. Because of the constantly changing relationships, one has to switch between the full range of emotions through the show. Terri Kwan does an excellent job here. There are a lot of crying scenes, but I was pleasantly surprised that she didn't pour on sacchrine to the point where it was cringe-worthy. All-in-all a great showing.

 
Ji Qin as Pan Neng Zhen 

Plays the eldest sister in the Pan family. Loves Ah Hao but is too shy to admit it to him. She is a huge fan of Xu Le's novels but only knows him under his pen name of Ye Zi. The Neng Zhen character exists primarily to help develop the character of Ah Hao throughout the show as a new love interest. The role is relatively small compared to the 5 other leads, but Ji Qin does a good job at playing out the changes that the character goes through: changing froma shy and sheltered girl to one who isn't afraid to go out into the world. Again, somewhat cliche but at the same time realistic and relatable.


Supporting Cast:
The entire supporting cast is superb. You have the hilarious boss of the taxi company who loves to ask his drivers to bring him back any good food they find. Xiao Ma's brother who exudes a calm and serious demeanor of a general manager. The Pan family parents who run a Chinese medicine clinic. Vanness Wu's guest star role as Leo is hilarious but not overdone to the point of ridiculousness. I also want to make special mention of the 3 actors who play the younger versions of Xu Le, Xiao Ma, and Ah Hao. They develop the personalities of the characters flawlessly, as you can see the seeds of why their adult versions are the way they are and why they make certain decisions in certain situations.
Character Summary: 
The best part of the characters in the show are that they are all realistic and relatable. Some like Neng Xian (Nancy) are straight out girl next door types. Some are more eccentric like Xu Le, but they all have qualities the viewers can relate to. There are no over-the-top characters (e.g. anything with Mike He) that while entertaining once in a while, are completely in a different universe. Furthermore, the main characters are all good people with flaws. Their successes and failures are due to their various strengths and weaknesses. This creates a stronger connection with the audience, as you can really root when they succeed, and you really feel for them when they come up short.
B. Plot/Story  
I won't give away the plot, but I'll say that it has similar qualities to that of the characters: realistic and relatable. Nothing absurdly crazy happens. Everything that happens could really happen in real life, which in my opinion strenthens the dramatic impact. There are a couple "buys" we have to accept in order to set up the initial situation and get the ball rolling. However these come early on so you don't get deus ex machina situations at the end. These is a near "kiss of death" cliche near the end but I personally thought that they did an excellent job resolving that without resorting to ultra-weepy scenes with cringe-worthy dialogue. That section is handled in a very adult manner which suffice to say is a rarity in Taiwanese drama. The final thing about the plot is that it weaves in a bunch of tourist attractions in Taiwan (more on this below) and it does it very well. All in all, the plot does an excellent job of weaving the characters together in a belieavable story and also including some beautiful locations for them to go.
C. Music/Soundtrack  
Usually, Taiwan dramas if anything have excellent music. This one has one of the best drama soundtracks I've heard. The opening track "Waiting Here For You" by F4 is catchy and easy to sing along with. There are other tracks used for various moments, and you will recognize them during the show. Lu Yi's moments have a particular song. The 3 friends have their song. Xu Le and Neng Xian have their own songs. I can't find fault with any of the songs as not only are they good songs but they are used effectively to enhance the show instead of distract or detract from it.
D. X-Factors  
The biggest X-factor is definately the scenery. This show was partially funded by the Taiwan tourism bureau, and they masterfully incorporated some of the big tourist attractions like Ali Mountain, Toroko Gorge, Sun Moon Lake, and the Taipei 101. There's some great shots in the show, and I marvelled at how they managed to wrap a believable story involving all of these places. I also want to add points for being realistic with the characters and plot. In an age where over-the-top stuff is the norm, this show was a breath of fresh air. Sometimes less is more, and the realism strengthens the dramatic impact and lessons of the show.
E. Summary/Conclusion  
Wish To See You Again is one of the best contemporary Taiwan dramas. It features realistic adult characters in a realistic story. None of the exaggerated stuff that Taiwan normally puts out. It provides a clear look into life in Taiwan through the characters and shows off many of the beautiful tourist attractions there throughout the story. The music is great and enhances the experience. You grow to care for the characters, as they are all good people trying to succeed, but flawed so that they are tested along the way. This is due in no small part to the actors, who give excellent performances. The plot develops all the main characters very well, including back story and changes through the show. The final resolution is handled nicely as what would normally be a horrible cliche in any other drama is resolved in an adult manner. This one hits all the right notes. I highly recommend you see it if you haven't already.



sepucuk surat disenja sunyi

“Nura, mau kemana lagi kamu?” teriak Mama dari dalam kamarnya yang pintunya sedikit terbuka. “A…aku… biasa lah, Ma. Kayak nggak tau aja,” jawabku tergagap sambil melayangkan kamera SLR Sony Alfa 200 kesayanganku yang kubeli sekitar 3 tahun lalu. Aku yakin Mama pasti akan melarangku untuk memotret lagi. Karena, entah kenapa, dia agaknya kurang begitu suka melihat hobi memotretku. Namun kali ini berbeda, tanpa perlu aku meminta izin dan bersusah payah memohon-mohon untuk diperbolehkan memotret olehnya, beliau langsung begitu saja mengizinkanku pergi. “Baiklah. Tapi ingat, pulangnya jangan sampai larut!” katanya setelah melihat tampangku yang agak memelas. “Oke, Ma. Makasih ya, Ma,” seruku sambil mencium kedua pipi Mamaku, lalu kemudian bergegas pergi sebelum Mama berubah pikiran. Aku sengaja tak mengungkit ketidaksukaan Mama tentang hobi memotretku. Karena seperti yang kukatakan tadi, aku takut ia berubah pikiran. Akhirnya, sampailah aku ke tempat tujuanku, Taman Cinta—orang-orang biasa menyebutnya begitu, mungkin karena taman ini selalu didatangi oleh pasangan yang sedang memadu cinta. Tapi kalau menurutku wajar saja. Taman kan memang identik dengan tempat kencan. Aku menuju ke sudut taman yang agak sepi. Taman itu memang lumayan besar sehingga masih tersedia beberapa ruang tersisa yang tidak digunakan oleh para pasangan yang sedang memadu kasih. Satu per satu kupotret objek yang kurasa bagus. Seperti pemandangan taman yang luas dengan pohon-pohon yang rindang dan daun berserakan, sangat natural. Ada juga sepasang kekasih yang sedang duduk berdua di bangku taman di bawah pohon yang terlihat sangat sejuk, burung-burung yang hinggap di pohon, matahari di sore hari, langit kemerahan, dan sebagainya. Tak terasa tiga jam telah berlalu sejak aku mulai memotret. Hasil potretanku pun sudah cukup banyak samapi akhirnya kuputuskan untuk pulang. Matahari sudah mulai bosan menampakkan cahayanya. Perlahan-lahan ia pun pergi, menghilang dibalik bayangan atap-atap perumahan, dan seketika alam berubah menjadi gelap. Namun tak lagi gelap ketika perlahan-lahan sang bulan muncul dan menyinari dunia yang seketika gelap. Indah sekali. Tanpa pikir panjang, kuraih kembali kameraku dan menengadahkannya keatas sampai cahaya bulan serta keindahan alam pada malam hari terpatri dalam layar kameraku. Dan… satu gambar lagi kudapatkan hari ini. “Mer, look at my new pics in nature! Cool isn’t it?” Kutunjukkan gambar baruku kepada Mercy ketika kulihat ia sudah duduk di kursinya. “Yeee, bukannya nyapa gitu, malah langsung nunjukkin foto. Tapi, boleh juga dilirik,” serunya riang dengan senyuman khasnya yang paling kusuka. Mercy mulai melihat dengan cermat hasil tangkapan gambarku kemarin sore. Mercy memang tidak bisa memotret, tapi ia tahu ilmu-ilmu dasar memotret. Makanya setiap aku mengambil gambar baru, aku selalu menunjukkan hasil tangkapan gambarku padanya. “Bagus nih, Ra. Yang ini. sini deh,” katanya setelah beberapa menit melihat-lihat hasil tangkapan gambarku. “Anglenya keren banget.” Katanya lagi. Aku yang sedang menikmati sarapanku langsung menoleh melihat ke layar kamera SLR Sony Alfa 200 ku kesayanganku dan melihat gambar yang di maksud oleh Mercy. “Yang itu?” tanyaku dengan mata melotot saking kagetnya. Aku tersedak makananku saking kagetnya. Mercy yang refleks melihatku tersedak makanan langsung mengambilkan botol air minumku yang kuletakkan di sudut meja. “Kenapa, sih lo? Sampai keselek gitu. Ada yang salah sama gambar ini? bagus, lho.” Mercy memandangku dengan tatapan aneh namun curiga. Astaga! Aku lupa menghapus foto itu. Omigod! Jangan samapi Mercy menyadari siapa yang ada di dalam foto tersebut. “Ng… nggak ko. Gue nggak apa-apa,” jawabku, tentu saja aku berbohong. Namun seperti bisa membaca pikiranku, Mercy sepertinya mulai menyadari siapa yang ada di dalam foto tersebut. “Ra, entah kenapa, kayaknya gue kenal dia, deh. Tapi dimana ya? dia tuh familiar banget. Walaupun lo ambil anglenya dari samping, tetap aja gw yakin kalo gw ngerasa kenal sama dia.” Omigod! Bener kan apa yang kukatakan barusan. Mercy pasti menyadarinya. Ya Tuhan, jangan sampai dia tahu siapa orang itu. “Aha! Ini Raka kan, Ra? Gue yakin banget ini pasti Raka. lo motret bareng dia kemarin sore? Gimana bisa? Ceritain dong? Tapi… bukannya lo bilang lo malu kalo ketemu dia? Tapi kok…” belum sempat Mercy melanjutkan cerocosannya yang membuat beberapa mata anak-anak di kelas teralih kepada kami, langsung saja kubekap mulutnya—tentu saja setelah aku menghabiskan makananku yang terakhir. “Diem! Nggak usah nyebut merk bisa nggak, sih? Untung orangnya belum datang. Dan lebih untungnya lagi, nggak ada anak-anak yang merhatiin kita! Setelah gue lepas tangan gue, lo harus diem ya? nggak usah ngomong. Biar gue yang jelasin. Oke?” Mercy mengangguk. Mukanya mulai memerah karena nggak bisa bernapas. Matanya terbelalak. “Inget ya, setelah gue lepasin bekapan gue, lo diem, nggak usah ngomong soal ini. Oke?” dan anggukannya pun aku anggap sebagai tanda persetujuan. “Ta… tapi, Ra… gi…” namun kali ini aku tak perlu bersusah payah untuk membekap mulutnya. Karena baru saja Pak Moko masuk ke dalam kelas, dan itu berarti pelajaran dimulai. Dan artinya lagi, kita nggak boleh berbicara, mengobrol, bercanda, atau bahkan mengeluarkan suara sedikitpun—tentunya pembicaraan yang tidak sesuai dengan pelajaran—saat pelajaran berlangsung. “Ra, gimana ceritanya? Katanya mau ceritain ke gue? Ayo, dong. Gue nggak sabar, nih. Lo bikin gue penasaran banget, tau. Gimana bisa lo jalan bareng Rak… eh maksudnya dia? Tapi itu beneran Rak… eh maksudnya, itu beneran dia, kan?” Mercy memulai lagi cerocosannya yang tak henti-hentinya disodorkannya mulai dari istirahat jam pertama, istirahat jam kedua, dan saat ini, sepulang sekolah. “Aduh, Mer. Nanti aja ya ceritanya? Gue juga bingung soalnya mau mulai darimana. Oke, sayang?” jawabku kepadanya yang sepertinya tidak puas dengan jawabanku. “Tapi jangan lama-lama ya mikirnya?” tanyanya. Aku pun mengangguk. “Beneran?” tanyanya lagi. Aku pun mengangguk lagi. “Jangan ngangguk melulu kenapa, sih. Jawab iya, dong!” bentaknya kepadaku, kesal karena aku terkesan tidak menaggapinya. “Iyaaa!!!” teriakku di depan wajahnya. “Puas?” lanjutku lagi sambil berjalan secepat mungkin, menjauh darinya. Hari ini motret kemana, ya? hmm… oh iya, Danau dekat rumah Oom Burhan. Kok bisa sampai lupa, ya? padahal kan tempat itu udah termasuk di dalam planning. Aduh! Dasar pikun! Baterai, tali kamera, tripod, laptop, USB, udah siap. Apa lagi ya yang belum? Ah gue rasa udah cukup lah. Tapi kayaknya masih ada yang kurang. Apa ya? Handphone! tuh kan,penyakit luap datang lagi. Tapi dimana ya Handphoneku? Halo… HP, dimanakah, kau sekarang? I’m looking for you. Nah, ini dia. Tapi sejak kapan aku nyimpen HP di laci? Ah udahlah, nggak penting juga. Yang penting sekarang semuanya udah siap. Dan… ada SMS? Dari siapa ya? Raka! wow… sejak kapan dia mulai mengirim SMS untukku? Tunggu! Sejak kapan juga dia tahu nomor aku? Ih wow! Tanpa banyak mikir, kubuka SMS itu. Ra, kalo ada waktu, bisa ga kita Ketemuan di Taman Cinta? Ada yg mau gw omongin. Jgn lupa, ya. hari ini… Mon, 1 Jun 2009. 13.36 Hah? Raka ngajak gue ketemuan? Mau ngapain ya dia? Hmm… temuin apa nggak ya? temuin aja, deh. Tapi sekarang udah jam 14.05. kalo nggak salah tadi Raka ngirim SMS sekitar jam setengah dua, deh. Wah bener! Aku harus cepat! Ya Tuhan, mudah-mudahan Raka masih nungguin aku. “Ma, aku pergi ya. Assalamualaikum…” Aku pamit kepada Mama tanpa tahu dia ada atau tidak. Dan ketika ku membuka pintu rumah, kulihat Raka berdiri di ambangnya, masih memakai seragam sekolah, dan tersenyum kepadaku. “Hai, Ra. Baru bangun tidur, ya? sampai nggak sadar gitu ada SMS dari gue. Apa SMSnya nggak sampai?” tanyanya santai dengan suaranya yang berat tapi tetap terasa lembut di dengar. “Oh… iya…iya maaf ya. Tadi gue nyiapin perlengkapan buat motret hari ini. lagian gue juga lupa dimana tadi gue taruh HP gw. Maaf ya. Lama ya nunggunya? Segala datang ke rumah gw lagi. Maaf banget, ya.” Aduh! Kenapa dia mesti datang kesini, sih? Jadi nggak enak hati aku. “Nggak apa-apa, lah. Lagian gue cuma mau kasih ini, kok ke lo. Mungkin gue aja yang lebai kali ya? hahaha” katanya sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat besar kepadaku. “Jangan dibuka sekarang!” serunya ketika hendak membuka amplop berwarna cokelat itu. “Tolong buka amplop itu kalo lo lagi nggak sibuk. Gue nggak mau ganggu lo aja,” lanjutnya lagi. “Oh. Oke,” jawabku singkat. Kira-kira apaan ini ya? ya Ampun, Raka… saat-saat seperti inilah yang kuharapkan selama ini. bisa berbicara berdua lagi seperti dulu bersama kamu. Sayang, kamu terlalu popular untuk mau berbicara denganku yang tergolong Cupu. “Nah, sekarang gue pergi dulu, ya. dah…” “Lho, nggak masuk dulu?” “Nggak usah lah, kapan-kapan aja. Bye, Nura…” “Bye, Raka…” Wow! Raka… ya ampun, lama banget kita nggak ngobrol bareng, tapi sekalinya ngobrol—walaupun sedikit—kamu langsung kasi ini ke aku. Buka sekarang apa nanti ya? hmm… nanti aja, deh. Sekarang mumpung perlengkapan motret udah siap, aku motret dulu aja. Lagian tadi Raka bilang aku nggak harus buka amplop itu sekarang. Namun, baru selangkah menuju pintu gerbang rumah, tiba-tiba handphoneku berdering. Ada panggilan dari Mercy. Ada apa ya? nggak biasanya dia nelepon. Palingan SMS. Ah mungkin dia cuma mau tanya soal foto-foto di Taman Cinta kemarin. Males ah angkatnya. Namun Mercy nggak jera untuk terus menelepon. Akhirnya karena nggak sabar aku angkat juga telepon dari dia. “Ada apa sih, Mer? Gue mau pergi, nih! Nanti aja deh di sekolah kalo mau denger cerita tentang foto-foto itu!” Aku berkata dengan ketus kepada Mercy yang belum sempat berkata apa-apa. “Ra, gue bukan mau denger cerita tentang foto itu, kok. Gue cuma… gimana yah? Lo ke rumah Raka sekarang, deh. sekarang juga. Nggak usah motret! Sekarang juga ke rumah Raka. Oke?” dan telepon pun terputus. Mercy? Kenapa ya dia? Dari nadanya kedengarannya dia sedih banget. Terus ngapain juga dia nyuruh aku ke rumah Raka? Ada apa sih, sebenarnya? Sesampainya dirumah Raka, kulihat banyak orang berkerumun disana dengan memakai pakaian serba hitam. Aku pun melihat bendera kuning di kejauhan terpasang. Siapa yang meninggal? Salah satu anggota keluarga Raka? Tapi siapa? Setahuku Raka seorang anak tunggal yang tinggal memiliki Ayah 5 tahun yang lalu. Dan kupikir Ayah Raka itu adalah sosok Ayah yang gagah, yang masih kuat. Jadi nggak mungkin Ayah Raka meninggal. Lalu siapa? Jangan-jangan… nggak mungkin! Saat itu pula aku melihat Mercy yang juga memakai pakaian serba hitam berlari menuju kearahku lalu seketika itu juga memelukku erat-erat sambil berlinang airmata. “Ra… Raka… Raka… Raka meninggal, Ra. Raka udah pergi ninggalin kita semua. Sabar ya, Ra,” ucapnya tersedu-sedu dan terus mendekapku makin erat. “Nggak mungkin! I…ini… barusan dia…” seketika itu semua organ tubuhku terasa lemas. Amplop cokelat yang masih kupegang erat ditanganku saat itu juga terlepas dari pegangannya. Mataku mulai terasa gelap, dan semuanya berubah menjadi hitam… sepertinya aku pingsan. “Lho, Nura… Nura… bangun, Ra! Nura…” “Ini…” kataku kepada Mercy dan Ayah Raka, Oom Kardi setelah aku sadar dari pingsanku. “Aku belum sempat membukanya. Bisa tolong dibukakan?” lanjutku lagi. “Oh, oke…” jawab Mercy. Kulihat Mercy membuka amplop pemberian raka itu dengan sangat hati-hati. Kemudian ia mengeluarkan semua isi amplop tersebut. Ada album foto, dan sebuah surat… Kusuruh Mercy membacakan surat itu. Dear Nura… Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk mengenalmu, izinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk melihatmu, izinkan aku untuk terus memperhatikanmu…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk bersamamu, adakah kau bersedia memeluku didekapmu?Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk menjagamu, izinkan aku untuk terus berada disampingmu…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk hidup di dunia, izinkan aku mengucapkan kalimat terkhirku untukmu,Aku menyayangimu…Salam Sayang Raka Mercy memberikan hadiah terakhir pemberian Raka kepadaku. Album Foto yang berisi kumpulan foto-foto kami sewaktu kecil, sampai foto-foto terakhirku yang bisa diambilnya. Jadi, Raka juga suka fotografi? Dan selama ini dia masih memperhatikanku sampai-samapi ia memiliki foto-fotoku dalam berbagai pose. Mengapa aku tak pernah menyadarinya? Raka, izinkan aku menulis surat cinta untukmu, sebagai balasan atas surat cinta yang kau berikan untukku. Dear RakaAndai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan kau mengenalku lebih jauh…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan kau untuk terus memperhatikanku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan diriku memelukmu erat dalam dekapanku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan dirimu terus berada disampingku dalam sedih dan dukaku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama untuk hidup di dunia, akan kukatakan,Aku juga menyayangimu…Salam Sayang Nura Hari ini di senja yang sunyi di Taman Cinta, kubiarkan surat itu pergi bersama pesawatnya. Kutujukan surat itu untukmu, Raka… agar kamu tahu bahwa aku juga mencintaimu. Goodbye, Raka…

bunga nisan

Langit terliat mendung . Seakan ikut sedih bersamaku . Aku membawa seikat bunga mawar di mulutku . Kemudian bunga-bunga itu kuletakkan diatas tanah . Tepat didepan nisan yang bertuliskan Bunga Sinta Rahayu . Aku mengelus-eluskan pipiku di batu nisan itu .
Aku menatap langit . Mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan indah . Ya , kenangan indah yang pernah kualami bersama majikanku .
* * *
“Mochi ! Mochi...! Kamu dimana ?”
Majikanku memanggilku . Uh ! Aku harus cepat-cepat datang menemuinya . Aku menyudahi obrolanku dengan Mey . Kucing betina punya tetangga sebelah . Dia...Ehem ! Pacarku .
“Meong...(Iya )”Kataku .
“Oh , kamu disini rupanya .Mochi , kamu mau ikut aku kerja ?”Tanya
majikanku .
“Meong-meong (Mau-mau ) “Kataku .
Majikanku mengambil tongkat dan tasnya . Kemudian dia berjalan meraba-raba dengan tongkatnya . Dia berusaha mencari pintu rumah . Setelah berhasil menemukannya dia langsung membuka pintunya . Aku keluar duluan . sementara majikanku menyusul dari belakang . Tak lupa dia mengunci pintu rumahnya .
Majikanku itu bernama Bunga . Dia adalah seorang tuna netra . Tapi meskipun begitu , dia tidak mau merepotkan orang lain . Dia berusaha bekerja semampunya . Bunga , majikanku itu bekerja disebuah home industri . Setiap kali bekerja , aku selalu diajak . Aku senang memiliki majikan seperti dia . Dia sangat perhatian padaku . Terkadang ketika dia bekerja , aku pun ikut membantunya .
* * *
“Bunga , akhirnya kamu datang juga . ibu sudah tunggu dari tadi .
Seperti biasa , ya . Tolong bungkus makroni goreng ini .”
“Iya , bu .”Kata Bunga .
Ibu pemilik home industri tempat majikanku bekerja , menuntun majikanku . Dia menuntun majikanku ke tempat pembungkusan . Setelah itu , bunga duduk . Dan mulai bekerja . Meskipun tuna netra , majikanku tetap bisa bekerja layaknya orang normal . Dengan cekatan , dia mulai memasukkan makroni gorengnya kedalam plastik .
“Siti , ini .”Kata Majikanku sambil menyerahkan makroni goreng yang
sudah dibungkusi .
“Oh ya .”Kata orang yang dipanggil Siti .
Oh ya . Majikanku bekerja disini hanya sebatas membungkus makroni goreng saja . Sedangkan bagian yang lainnya , dilakukan oleh teman-teman majikanku yang normal .
* * *
Majikanku dan aku pulang dari tempat kerjanya . Kami pulang dengan menaiki becak .
“Berapa pak ?” Tanya Majikanku .
“ 7000 , mbak .”Jawab Tukang becak .
“Kok sekarang mahal pak .”Kata Majikanku .
“Ya , maklumlah , mbak . Sekarang apa-apa juga naik .”Kata Tukang
becak itu .
Bunga kemudian membayarnya . Setelah itu , aku dan Bunga masuk ke dalam rumah . Didalam tampak gelap . Bunga kemudian menyalakan lampunya . Nah , sekarang sudah terang . Tak lupa majikanku menyalakan TV-nya .
“Nah , Mochi . Kamu disini dulu ya . Lihat TV dulu . Aku mau
mandi .”Kata Majikanku .
“Meong...(Iya...)”Kataku .
“Blam !” Terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup .
Aku menungu majikanku yang sedang mandi . Aku duduk dengan santai sambil menonton TV . Ah...Acaranya membosankan . Aku meraih remote TV-nya . Kemudian kupencet dengan asal tombol-tombol angka yang ada disitu . Dan akhirnya aku menemukan acara yang pas . Hmm....Manusia itu pandai membuat hiburan ya .
Setelah mandi , majikanku kemudian makan malam . Tak lupa dia menyiapkan makan malam untukku . Yah , apalagi kalau bukan makanan favoritku , ikan gereh . Dan minuman favoritku , susu hangat . Hmm...Enak ....
* * *
“Mochi , ayo berangkat .”Ajak Bunga .
“Meong....!(Ayo...!) .”Kataku dengan semangat .
Majikanku berjalan denganku ke tempat pangkalan becak . Kemudian dia memanggil salah satu tukang becak . Dan menyuruhnya untuk mengantar ke tempat kerja majikanku .
“Mas-mas , stop .”Kata Majikanku . “Ini ya ,mas .”Kata majikanku
sambil menyerahkan uangnya .
“Oh ya . Makasih ya , mbak .”Kata tukang becak itu .
Aku dan majikanku kemudian berjalan ke tempat kerja . Tapi tiba-tiba aku merasa ada seuatu yang aneh . Sepertinya ada seseorang yang membuntuti kami . Aku mulai waspada .Karena aku merasakan orang itu semakin dekat , dekat , dan...Dia mengambil tas majikanku !
“Meong!Meong!(Copet!Copet!)”Teriakku .
“Copet...!Tolong....!”Teriak Majikanku .
Copet itu terus berlari .Aku pun berusaha mengejarnya . Dibelakangku ada beberapa orang yang ikut mengejarnya . Dibelakangku ada beberapa orang yang ikut mengejarnya . Mungkin mereka tahu majikanku berteriak , sehingga mereka ikut mengejar copetnya .
Aku berlari lebih cepat lagi . Dan sekarang aku berada didekatnya . Aku melompat ke pantatnya , kemudian menggigitnya .
“Aw ! Apa ini ?! Huh ! Dasar kucing sialan !”Bentak si pencopet .
“Buk ! “ Pencopet itu memukulku .
“Grr...Meong!(Sialan ! Rasakan cakaranku ini !)”
Pencopet itu berhenti berlari , dia merasa kesakitan . Karena mukanya habis aku cakar . Dan itu menjadi kesempatan orang-orang yang ada di belakangku untuk memukulnya . Kemudian salah seorang dari mereka menyerahkan tasnya pada majikanku . Majikanku terlihat senang . Dan aku pun lega melihatnya .
* * *
Hari Minggu ini , majikanku mengajakku pergi ke pasar . Seperti biasa , dia mau belanja untuk kebutuhan minggu ini . Karena jaraknya dekat dengan rumah ,maka majikanku lebih memilih jalan daripada naik becak .
Sesampainya di pinggir jalan raya aku dan majikanku mulai menyebrang . Kaena pasarnya terletak di seberang jalan . Ketika kami menyebrang , tiba-tiba ada mobil yang melaju ke arah kami . Mobil itu melaju dengan kwcwpatan tinggi . spontan aku langsung berlari ke seberang . Fuh , selamat . Tapi...Diaman majikanku?
Rupanya mobil tadi menabrak majikanku . Majikanku pingsan . Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menolong majikanku . Sementara itu , mobil yang menabrak majikanku tadi langsung lari begitu saja .
Setelah kejadian itu , majikanku dirawat di rumah sakit . Dia dirawat selama seminggu . Dan dalam keadaan koma .
* * *
Sekarang , dia sudah pergi untuk selama-lamanya . Yang ada disini hanyalah nisan yang bertuliskan Bunga Sinta Rahayu . Dan kenangan-kenangan indah yang pernah kualami bersama majikanku . Tiba-tiba air mataku menetes .
“Meow , meow meow ( sudahlah , jangan terus ditangisi . Kasihan nanti
dia disana .).”
Sepertinya aku kenal dengan suara ini . Aku menoleh ke belakang . Dan ternyata yang berbicara tadi adalah Mey , istriku .
“Meong , meong meong meong ( Tapi , aku sekarang jadi sebatang
kara ).”Kataku .
“Meow meow meow . Meow meow ( Kau tidak sebatang kara . Kan ada
aku dan anak-anak ).”Kata Mey .
Tiba-tiba muncul lima anak kucing dari belakang Mey . mereka berlari mendekatiku . Kelima anak kucing itu mengelus-eluskan pipnya ke kakiku .
“Meong , meong meong meong ( ayah , jangan pergi lagi ya ).”
“Meong . Meong meong (Iya , yah . Kita kan kangen sama ayah ).”
Aku tersenyum pada anak-anakku . kemudian aku melihat Mey . Dia juga tersenyum lembut padaku . Aku pun membalas senyumannya . Kemudian kucium , Mey . Mey terlihat kaget ketika kucium .
“Meong...Meong-meong (Ayo kita pulang ).”Kataku .




kasih sayang seorang ibu

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, “Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, “Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.
JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.

Selasa, 15 November 2011

cerpen persahabatan

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Minggu, 13 November 2011

wish to see you again"is my aorite one"

Ini sinopsis episode pertama baca ya....

Ada seorang laki-laki, dengan kumis dan jenggot tipis, sedang menatap layar laptopnya dengan serius. Keadaannya sungguh memprihatinkan. Keliatan banget kalo nggak pernah ngurus diri (-_-). Siapa dia? Oh, pemirsa. Ternyata dia Xu Le, penulis novel terkenal yang lagi dikejar deadline buat nyelesain novelnya tapi nggak selesai-selesai. Kenapa?
/Karena dia jarang mandi? (._.)a *Bukanlah! Nggak ngaruh tau!! -,- /Eh iya ya. Trus kenapa? *Karena nggak ada inspirasi donk!! Oke, kelamaan. Langsung cabut.
Padahal dia udah nginep di hotel sahabatnya, Xiao Ma, ngurung diri di kamar, sampe nggak mandi, and nggak terima buat kamarnya dibersihin tapi tetep aja nggak dapat inspirasi. Akhirnya dia mutusin ke bioskop. Waktu nonton film sedih, yang lain pada nangis tapi Xu Le diem aja. Trus dia mikir, dia mungkin nggak bisa nangis, makanya dia pindah buat nonton film komedi. Semuanya pada ketawa, Xu Le? Tetep aja tanpa ekspresi (-__-). Akhirnya dia pergi ke taman bermain, naik kaya kora-kora. Kembali terjadi. Yang lain pada teriak histeris, tapi Xu Le tetep aja adem ayem tanpa ekspresi.
Sampe akhirnya editornya nagih novel terbaru Xu Le. Tapi dia nggak ngasih-ngasih. Belum slesai juga. Karena kelamaan nunggu, editor itu mutusin buat nemuin Xu Le di kamar hotelnya dengan cara bilang ke receptionist kalau orang di kamar itu mau bunuh diri. Karyawan magang itu, Nancy, bingung. Privasi penyewa kamar tu nggak boleh diurusin, tapi karena ini mengangkut nyawa, akhirya dia nurutin editor buat ke kamar Xu Le. Nah Lo. Pas buka pintu kamarnya itu bareng waktu Xu Le lagi megang pisau (kaya mau bunuh diri gitu megangnya). Pikiran dua orang tadi yang emang ngira Xu Le mau bunuh diri langsung masuk ke dalam. Padahal Xu Le Cuma mau ngupas apel (-,-). Trus Nancy bilang ke Xu Le kalo “Kehidupan ini indah,jangan menyerah pikirkan orang yang kau cintai dan juga mencintaimu”.  Xu Le yang emang ngga ada niat bunuh diri langsung marah-marah sama Nancy. Karena gara-gara dia inspirasi yang udah muncul waktu megang apel langsung ilang pas Nancy nerobos masuk.
Karena kecorobohannya itu, Nancy ngga lulus buat kerja di situ lagi. Sementara Xu Le, mutusin pulang ke rumah karena nggak kunjung dapet inspirasi. Tapi terus dia inget, kalo lagi deket Nancy koq tiba-tiba dia dapet inspirasi ya? Tanpa piker panjang, dia pergi ke hotel buat nemuin Nancy, sambil bawa pisau tapi. *Ngapain coba? Aneh-aneh (-_-“)*
Jelas aja orang-orang di hotel panik karena Xu Le tiba-tiba masuk sambil bawa pisau. Mereka kira dia pembunuh. Sambil ngacungin pisaunya ke Nancy, dia bilang, “ada benda milikku yang kau bawa, sekarang aku mau ambil, tapi kau merusaknya”. Nancy yang ketakutan jawab, “emang apa yang udah aku ambil?”. Xu Le jawab, “Kalo aku jelasin, kamu nggak bakal ngerti”. Nancy yang takut nyuruh security buat bawa Xu Le ke rumah sakit jiwa. Untungnya ada Xiao Ma, bos kecil Nancy dan teman Xiao Ma, yang bantu nyelesain salah paham itu. Dan berkat Xiao Ma juga, Nancy bisa tetep kerja di hotel tadi.
Xu Le yang udah frustasi terus pergi ke psikiater. Dia disaranin buat liburan aja sekalian refresing. Tapi dia ngga bisa, karena lg dikejar deadline. Di rumahnya, pembantunya ngomel karena supir taksi sekarang cerewet banget. Mau tau aja urusan orang. Terus Xu LE kepikiran buat jadi supir taksi. Mungkin kalo dia jadi supir taksi, dia bisa mendengar cerita dari penumpangnya dan bisa dapet inspirasi. Xiao Ma setuju dengan keinginan Xu Le.
Neng Xian mo di traktir makan siang sama Xiao Ma karena idenya di setujui oleh kakaknya Xiao Ma. Trus Xiao Ma ngajakin Xu Le buat ikutan juga, gak lama kemudian Xiao Ma didatangin ma cewek yang kayaknya sih mantan pacarnya yang mo minta di traktir juga. Tinggalah Xu Le berdua ma Neng Xian, kemudian Xu Le curhat kalo dia kesulitan nyari inspirasi sama Nancy di ajakin ke tempat rahasianya tapi tetep aja inspirasi itu nggak muncul karena menurut Xu Le novel yang mo tulis bukan mengenai tumbuhan waktu Neng Xian ngajakin ke taman.
Hotel lagi butuh ide buat menyambut hari ayah. Trus Neng Xian usul buat mbuka restoran steak dan ngundang wartawan buat nyobain masakan yang dibikin sama koki luar terkenal itu. Lu Yi, editor majalah, juga di undang. Ternyata Lu Yi itu temen SMA Xu Le, Xiao Ma, dan Ah Hao waktu SMA. Dia itu inceran mereka. Langsung aja, waktu Xiao Ma ketemu Lu Yi lagi dia langsung PDKT.
Di post taksi, para supir dan karyawan lagi kumpul” buat ngerayain ulang tahun bos mereka. Tiba-tiba ada orang datang. Xu Le yang ngerasa nggak asing dengan orang itu, yang ternyata Ah Hao, merhatiin dia mpe ngga kedip. Oke, lebay. Waktu temenya tanya, apa mereka saling kenal, Ah Hao malah jawab, tidak.
Xu Le yang penasaran trus pura-pura jadi penumpang, telpon ke taksi buat nyuruh Ah Hao jemput dia di jembatan. Trus dia juga telpon Xiao Ma. Waktu mereka ketemu, Ah Hao tetep nggak ngaku kalo dulu mereka sahabatan dan ngga mau sahabatan lg ma mereka. Trus Xiao Ma dating. Xiao Ma ngga terima sikap Ah Hao terus mukul dia. Berantem deh. Di pinggir jalan, supir taksi teman Ah Hao dan Xu Le lht kejadian tadi dan ngadu ke bosnya. *huu.. wadulan..*. Karena masih penasaran, Xu Le nyari rumah Ah Hao, n dapet info kalo ternyata Ah Hao deket sama kluarganya Nancy. And sejak papanya Ah HAo meninggal, keluarga Nancy perhatian banget sama Ah Hao karena dulu ayah Ah Hao yang udah bantu ortu Nancy bwt buka klinik kesehatan.
Lu Yi ngadain pesta, Xiao Ma diundang. Trus Xiao Ma ngajak Nancy. Nancy ngga mau, ngakunya ngga punya baju yang pas. Trus dia dibeliin baju Xiao Ma, jadinya dating deh ke pesta. Di pesta, Nancy dicuekin, karena Xiao Ma ngobrol terus sama Lu Yi. Dia kira bos kecilnya ngajak dia karena suka ma dia, ternyata Cuma buat nemenin. Karena sebel, dia nggak sengaja numpahin anggur ke roknya sendiri. Jadi kotor deh. Tapi Lu Yi dating buat ngebantu Nancy bersihin gaunnya. Hbis bersih, Nancy pamit pulang karena malu.
Di pinggir jalan, Nancy manggil taksi sambil mabuk. Xu Le yang nyadar kalo itu Nancy langsung nyalip taksi di depannya dan nyuruh Nancy masuk. Di perjalanan, Nancy ketiduran, trus muntah-muntah kena bajunya. Terus Xu Le bawa dia ke laundry buat nyuci gaunnya, n Nancy pake kemeja Xu Le. Nancy yang tiba” bangun kaget n marah” karena takut gaunnya yang dibeliin Xiao Ma rusak. Terus dia muntah lagi, tapi langsung di bdannya Xu Le. Habis selese nglaundry, Xu Le nganter Nancy pulang.
Xu Le akhirnya ketemu juga dengan Li Yu waktu di tempat pesta waktu mo dianter pulang sama Xiao Ma, Lu Yi menolak dia mo naik taksinya Xu Le aja, Xu Le yang ngeliat ekspresi mukanya Xiao Ma yang nyuruh nolak permintaan Lu Yi, akhirnya Xu Le menolak permintaan gadis itu dan mengatakan kalo dia ada urusan yang lain trus Lu Yi minta tukeran kartu nama. Besoknya Lu Yi ngajakin Xu Le ketemuan ternyata dia mo minta waktu buat wawancara Xu Le tapi di tolak sama Xu Le nggak putus asa Lu Yi nawaran lagi “ya udah kalo nggak mo’ di wawancara tapi mau kan traktir aq” di jawab “nggak” sama Xu Le. Abis ketemuan sama Lu Yi, Xu Le masih mencoba nemuin A Hao dirumahnya yang sebelumnya abis mabuk2an dan hampir aja cium kakaknya Neng Xian.
Gak Peduli dengan sikap A Hao yang tetep nggak mo ngaku kenal sama Xu Le cowok itu mutusin buat nginep di rumah A Hao, di tempat lain Xiao Ma lagi curiga karena sejak terakhir bertemu dengan Lu Yi, Xu Le nggak pernah ngaktifin HPnya trus waktu paginya nelpon Lu Yi cewek itu bilang kalo lagi sama Xu Le. Paginya A Hao ngusir Xu Le dari rumahnya tapi Xu Le tetep nggak mo pergi, dia malah minta kunci cadangan karena ntar dia mo balik lagi kerumah A Hao.
Neng Xian yang pingin tahu perasaan Ah Hao sama kakaknya mutusin buat ke rumah Ah Hao. Tp disana dia malah ketemu Xu Le, bukan Ah Hao. Trus mereka ngobrol kenapa bisa sampe disini. Waktu mau turun dari atap, Nancy minta bantuan Xu Le. Waktu Xu Le megang tangannya Nancy tiba-tiba inspirasinya muncul dan dia bilang, “rasa suka entah kapan datangnya, awalnya biasa, kemudian jadi kebiasaan, dan terus berharap menjadi menunggu”. Trus Xu Le nyuruh Nancy pulang sendiri karena dapet sesuatu. Nancy bingung kenapa tadi Xu Le bilang itu. Mungkin dia mikir kalo Xu Le suka sama dia.
Malemnya A Hao nggak pulang kerumahnya. Tinggalah Xu Le sendirian dirumah itu. Besoknya lagi enak2 tidur dia dibangunin sama A Hao buat pergi dari rumahnya. Kmudian diluar rumah Xu Le nelpon Xiao Ma untuk minta bawain makanan kerumah Ah Hao trus mereka bertiga ngobrol mengenai masa lalu. Itu buat Ah Hao sebel dan kemudian nyuruh mereka berdua pulang dan tetep nggak mo cerita apa yang sebenarnya yang terjadi padanya.
Pulang dari rumah Ah Hao, Xu Le pergi ke pangkalan taksi, tanya ma bosnya sejak kapan Xiao Ma jadi supir n alasannya jadi supir. Habis itu, bosnya ngajakin Xu Le makan. Bosnya ngga tau kalo itu sebenarnya uda kadaluarsa.  Jadi dia mbiarin Xu Le makan. Trus Xu LE narik lagi. Pas dijalan perutnya sakit dan langsung pulang ke rumah.
Di lain tempat Nancy tnya sm Xiao Ma kenapa sikap Xu Le slalu aneh. Xiao Ma bilang karena Xu Le penulis novel memang begitu. Nancy heran, trus tanya, “penulis apa?”. “Penulis terkenal Ye Zi, kau tak tau?” jawab Xiao Ma. “Dia ngga pernah cerita.” Habis itu, Nancy bilang ke kakaknya kalo Ye Zi, penulis novel yang disukai kakaknya itu adalah temannya bos kecil.
Karena sebel ngga dikasi tau, Nancy mutusin buat nyari Xu Le. Dia pergi ke rmh Ah Hao tp dsna Cuma ada Ah Hao. Nancy bilang ke Ah Hao kalo Xu Le itu Ye Zi, penulis novel. Ah Hao ngga heran karena wktu SMA Xu Le ska nulis. Nancy trus nyari Xu Le ke rumahnya. Waktubukain pintu, wajah Xu Le pucet, n ngga lama terus pingsan. Cepet” Nancy bawa Xu Le ke rumah sakit.
Waktu mau ngisi data administrasi, Nancy bngung. Dia ngga tau apa-apa ttg Xu Le. Untung Xiao Ma dtg. Dari Xiao Ma, Nancy tahu kalo tgl lhr 08-08 itu bkn tgl lhr asli Xu LE. Tapi hari dimna ia ditinggal dip anti. Nancy miris, jadi waktu semua ngerayain hari ayah, dia malah ingat hari ia dibuang. Trus Xiao Ma tanya kenapa Nancy bisa ada di rmh Xu Le. Nancy bilang kalo dia mau marah karena sharusnya teman tidak berbohong. Trus Xiao Ma bilang, “Selamat, Kau teman ketiga setelah Aku dan Ah Hao yang pernah dimilikinya. Jadi mulai sekarang kau sepertiga bagian penting dalam hidupnya.”
Xiao Ma dpt ide, dia pura” nelpon Ah Hao n bilang kalo Xu LE lagi kritis n bisa ilang ingatan. Ah Hao cepet” dating n minta maaf sm Xu Le yg masih tidur. Trus waktu tau kalo Xu LE cm sakit perut Ah Hao marah n brantem ma Xiao Ma. Berkat leraian Nancy *ceilah* mereka jadi temen lagi.
Paginya Nancy njenguk Xu Le sambil bawa bubur buat dia. Waktu liat Xu LE makan, dia baru ingwet kalo belum marah gara” bhong kalo Xu Le itu penulis Ye Zi.  Xu Le ikutan marah karena dia ngga ngeraa bohong, Cuma ngga cerita aja. Habis kluar rumah sakit, Xu Le pergi ke rumah Nancy mau bilang terima kasih. Tapi waktu itu Nancy masih kerja jadi dia di suruh nunggu sma kluarganya Nancy.
Di kantor, Nancy ditanya bos kecil makanan kesukaannya yang ada di hotel ini apa. Nancy jawab masakan Italy. Trus Xiao Ma ngajak Nancy ke RM masakan Italy. Nancy GR, dia kira itu buat dirinya. Ternyata dia cm disuruh bantu, karena dinner itu buat Xiao Ma n Lu Yi.
Di rmh Nancy, Xiao Ma diajak makan dan minum arak. Ga biasa sm arak, baru minum dikit Xu Le langsung tepar n ktiduran di sofa. Waktu kebangun, Nancy blm pulang juga, trus Xu Le pamit pulang. Di gang dpn, dari spion dia lihat Nancy jalan lesu banget. Dia ngajak Nancy makan n ngobrol.
Besoknya, kakak Nancy mau dijodohin ma orang. Ibunya takut telat jadi dia pesen taksinya Ah Hao buat nganter. Neng Zhen yang emg ngga suka dijodohin, karena dia suka Ah Hao, sebel. Ngga lama, Neng Zhen kluar rumah tmpt dia di jodohin smbil kesel, hampir nangis. Dia minta Ah Hao buat nganter dia pergi secepatnya, trus jalan” sbntar. Ibunya yang baru kluar ditinggalin gtu aja. Ternyata yang dijodohin ama Neng Zhen orangnya ngga seperti yang mereka kira (baik). Ibu Pan nyesel. N janji nggak bakal njodoh-njodohin Neng Zhen lagi. Waktu Neng Zhen jalan” ma Ah Hao, dia ngungkapin perasaannya yg sebenernya sama Ah Hao.
Hotel Neng Zhen dapet tamu dari Malaysia. Bocah kecil anaknya datuk Malaysia. Tuh anak dititipin di hotel itu biar jalan-jalan keliling Taiwan. Bapaknya ngga bisa nemenin, biasalah, datuk sibuk. Terus Xiao Wu –anak si datuk—minta Nancy yang ngatur segala acaranya. Nancy yg sebel ma dia, gara” kmrn mlmnya rebutan eskrim ma dia, jelas-jelas nolak. Tapi si Xiao Wu g mau nyerah. Niat buat ngerjain Nancy, dia minta ditemenin jalan-jalan keliling Taiwan. Bareng Lu Yi juga. Nih anak kenalannya Lu Yi.
Waktu keliling Taiwan bareng Nancy n Lu Yi, mereka ketemu Xu Le. Denger kata Alisan Xiao Wu minta dianter ke sana. Yang lain pada nolak. Terus Xu Le inget kalo dulu Nancy pernah bilang tentang Alisan. Karena belum pernah ke Alisan, Xu Le setuju buat pergi ke Alisan. Besoknya Nancy, Xiao Wu, sama Xu Le pergi ke Alisan naik taksinya Xu Le.
Selama di Alisan, Nancy diusilin terus sama Xiao Wu. Waktu jalan”, Nancy ketiduran, terus Xiao Wu sm Xu Le jalan” sendiri. Nancy pas bangun bingung. Terus nyariin mereka keliling. G sabar dia telpon Xu Le. Ternyata Xu Le sama Xiao Wu lai belanja di toko belakangnya Nancy. Di toko itu, mereka beli aksesoris burung hantu n kirim kartu nama.
Terus mereka jalan-jalan naik kereta, main di pantai, main layangan, makan eskrim, makan nasi bekal, n cerita-cerita.  Sampe di hotel, Xiao Wu dapet surat dr ayahnya, habis baca, dia minta ditinggal sndri. Nancy yang capek g blh masuk jua, terus dia pergi minum bareng Xu Le. Karena Xiao Wu blm blh mbukain pintu juga, Xu Le nawarin buat Nancy istirahat di kamarnya. Sampai pagi deh mereka berdua.. Mau tau ngapain semalem berduaan? Lihat ndiri! Kekeke~
Paginya, Xiao Wu belum mau buka juga. Terus Nancy nekat masuk. Tapi Xiao Wu g ada di kamar. Dia panggil Xu Le n nyari Xiao Wu ke tempat yang ada di majalah. Ceritanya tu majalah disobek ma Xiao Wu. Ternyata Xiao Wu kabur gara” ayahnya bilang di surat kalo besok, hari ayah, dia g bisa ke Taiwan nemenin Xiao Wu. Xiao Wu sedih. Terus Xu Le nghibur dia. Sementara Nancy, Cuma lihat mereka sambil berusaha nelpon Daruk seupay besok mau nemenin Xiao Wu ngrayain hari ayah.
Besoknya mereka plg ke hotel Xiao Ma. Disana lagi diadain perayaan hari ayah. Xiao Wu yg udah dikasi tau kalo ayahnya bisa hadir minta Xu Le nemenin dia bikin roti sambil nunggu ayahnya dateng. Terus si datuk dateng. Dia bilang terima kasih sama Xu Le, n Xu Le pulang ke rumah. Ini hari ayah. Dia g mau sedih lagi, jadi mutusin lgsg pulang.
Nancy inget sama Xu Le yang drtd g dial ht. Trus dia sadar, hari ini hari ayah. Xu Le pasti lagi sedih. Dia mutusin buat bikin bekal untuk Xu Le n pergi ke rumahnya Xu Le. Xu Le yg g prnah dpt bekal lgsg peluk Nancy n nghabisin bekal itu. Abis Xu Le makan Neng Xian mo pulang karena takut menggangu Xu Le yang lagi ngetik naskah novelnya tapi dilarang sama Xu Le bahkan kemudian Xu Le mencium  Neng Xian dan memberikan cincin yang di beli oleh Xiao Wu dulu waktu di Alisan namun di tolak oleh Neng Xian dan meminta Xu Le menyimpan untuk dirinya.
Di rumah Neng Xian, kakaknya mengaku kalo dia menyukai A Hao tapi ortnya nggak merestui karena profesi A Hao sebagai supir taksi tidak akan bisa memberikan kebahagiaan buat Neng Zhen. Ke esokan harinya ngeliat Neng Xian yang tidak seperti biasanya Xiao Ma nanya ada apa dan Neng Xian menceritakan kalo dia sedih ngeliat hubungan kakaknya dan A Hao yang tidak di setujui ortunya karena profesi A Hao yang seorang sopir taksi dan tiba2 saja Xiao Ma mendapat ide dan dia buru2 nemuin A Hao buat minta dia jadi manajer adminitrasi di hotelnya awalnya A Hao menolak karena di Cuma lulusan SMA walaupun dulu di Amerika dia sempat kuliah tapi setelah di ancam oleh Xiao Ma akhirnya A Hao mau bekerja di Hotel itu.
Untuk merayakan bergabung A Hao di hotelnya Xiao Ma ingin membuat pesta dan mengundang Xu Le,Nang Xien dan juga Nang Zhen dan waktu mereka sedang makan dan bersulang Lu Yi datang dan kaget waktu ngeliat A Hao di sana dan gitu juga dengan A Hao,Xu Le yang ngeliat ekspresi di wajah A Hao dan Lu Yi merasa ada yang di sembunyikan oleh keduanya tapi nggak tau itu apa. Xiao Ma memperkenalkan Lu Yi sebagai pacarnya dan meminta Xu Le dan A Hao untuk tidak mengganggu Lu Yi lagi karena sekarang gadis itu sudah menjadi miliknya. Dan kemudian suasanan pun menjadi kaku karena Lu Yi nanya ke A Hao “apakah sebelum bertemu dengan Nang Zhen dia pernah menyukai gadis lain ?” dan di jawab “tidak pernah” oleh A Hao dan itu memancing kemarahan Lu Yi dan mengeluarkan kata2 yang menyakiti perasaan A Hao trus A Hao menarik tangan Nang Zhen dan pergi dari ruangan itu. Diiringi tatapan mata Xu Le yang merasa ada yang aneh dengan Lu Yi dan A Hao.
Ternyata kakaknya Xiao Ma nggak setuju kalo A Hao kerja di hotel mereka dan meminta A Hao buat mengundurkan diri karena tidak ingin melihat Xiao Ma bertengkar dengan kakaknya hari itu juga A Hao mengundurkan diri ngeliat hal itu Xiao Ma tidak tinggal diam dia juga ikut ngundurin diri, Nang Xian yang tau kalo bos kecilnya udah berenti dari hotel itu juga ikutan ngundurin diri.