Selasa, 22 November 2011

goodbye lyric

Goodbye
Artist: L2M
OST- Waiting to See You Again (這裡發現愛)

Lyric @ http://5566lyrics.blogsome.com
I don’t know what to say
And why I feel this way
And when I think of you
I know it’s sad but true
Now that the bond is broken
Due to all the words that were spoken
And now I got to let go
This is what I want you to know
(Goodbye) Goodbye
(My friend) Oh my friend
(This time) This is the end
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We will meet again
I don’t know what to do
‘Cause now I’m here without you
How can I heal this pain
When all there is is blame?
I’m looking for a new sky
(Looking for a new sky)
So I can mend this broken heart
And now I got to let go
This is what I want you to know
(Goodbye Oh) Goodbye
(My friend) Yeah
(This time) This is the end Oh
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We will meet again
I cannot wait
For these tears to dry
I must move on now
And leave the pain inside
But just give me the strength
‘Cause I cannot wait
(Goodbye) Goodbye
(My friend) Oh
(This time) This is the end
(This is the end)
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We’ll meet again
(You’re all my friend)
(Goodbye) Oh (My friend)
(This time) This is the end
(This is the end) Oh
(So long) So long (My friend)
I hope that one day
We’ll meet again
I don’t know what to say
And why I feel this way

w.t.s.y.a "bukan review"

Sepertinya nggak banyak serial drama yang bercerita tentang kehidupan seorang penulis. Yang paling kuingat hanya korama Full House yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Rain. Ah, pasti banyak yang menonton korama ini. Seingatku bahkan Indosiar menayangulangkan sebanyak 2x. Apalagi ucapan Han Jie Eun "Rajin! Rajin! Semangat!" sempat populer di kalangan penggemar dramanya. Sang pemeran utama, Han Jie Eun diperankan sebagai seorang penulis novel. Sayangnya nggak banyak sisi penulis yang dipaparkan. Mungkin karena ada profesi lain yang lebih banyak diceritakan yaitu aktor, profesi sang suami - Lee Young Jae.

Lalu, kemarin malam, selepas menonton potongan film mandarin di Indosiar, aku melihat informasi tentang tayangan selanjutnya. Judulnya Wish to See You Again. Awalnya kukira sebuah film, ternyata drama Taiwan. Asyik asyik.. Baru episode perdana! Pas lihat opening drama-nya, ternyata pemainnya Vic Zhou, pemeran Hua Ze Lei di drama Meteor Garden. Beberapa personil F4 juga ikut main. Beberapa pemain yang lain juga lumayan kukenal. Cuma jadi berasa aneh aja. Drama yang pemainnya bagus2 gini kok tayangnya jam 11 malam. Nasibnya sama kayak Meteor Garden dulu. Tapi kalo sekarang kayaknya gegara faktor menjamurnya korama. Bahkan dorama yang dulunya jadi primadona pun tersisih. Jadi inget beberapa bulan lalu lihat dorama Hana Kimi jam 12 malam. Hwee...

Wish to See You Again sekali tayang langsung 2 episode sekaligus. Cerita dibuka dengan adegan di sebuah kamar. Seseorang duduk memandang layar laptopnya. Fokus banget. Lalu jemarinya mulai ketak-ketik di atas keyboard. Dari sini aku langsung bisa menyimpulkan bahwa sang pemeran utama adalah seorang penulis. Hwaa.... Makin semangat nonton deh! Apalagi rasa kantuk belum jua datang karena ba'da maghrib tidur sebentar.

Xu Le, adalah seorang penulis novel best seller yang menggunakan nama pena Ye Ce (gini ga yaa nulisnya?) dalam setiap karyanya. Meski sudah banyak buku yang ditelurkan, tapi ia kerapkali dihinggapi penyakit writer's block. Sudah berhari2 ia berdiam di kamar hotel bintang 5, The Sherwood. Ia bahkan melarang petugas kebersihan masuk untuk membersikan kamarnya yang berantakan. Sebulan lagi naskahnya sudah harus jadi, tapi ia baru menulis sebanyak dua halaman. Berbagai cara ia lakukan seperti minum vitamin otak, ngemil, hingga mencoba berbagai eksperimen dudul, sayangnya tak ada ilham yang hadir (entah kenapa bukan kata inspirasi yang dipakai).

Xu Le sempat putus asa. Ia menutup laptopnya, lalu berkata, "Daripada menhasilkan buku jelek yang akan ditertawakan orang, lebih baik jadi asap yang menghilang." Tapi saat ia melihat apel di meja kerjanya, ia teringat sahabatnya, Xiao Ma, yang mengatakan bahwa jika ia memegang apel, maka adrenalin akan terpacu dan ilham akan muncul. Ia pun mencobanya. Apel di tangan kanan, pisau di tangan kiri. Dan benar saja, tiba2 di atas kepalanya sudah ada rangkaian kalimat yang menari-nari. Xu Le sangat senang. Ia pun menari2 sambil masih memegang pisau. Kau tahu, melihat ekspresinya itu, aku jadi ingat diri sendiri. Seperti itulah ketika ide tiba2 datang. Bahagia tiada tara.

Sayangnya, kebahagiaan itu sirna demikian cepatnya seiring dengan kedatangan sang editor dan petugas hotel yang dipaksa membuka kamar Xu Le karena sang editor bilang kalau Xu Le mencoba bunuh diri. Xu Le masih menari2 dengan inspirasi di kepalanya serta buah apel dan pisau di tangannya. Hingga satu persatu kalimat di atas kepalanya jatuh ketika petugas hotel yang panik memintanya melepaskan pisau (serta apel) di tangannya. Hyaaa.. Sampai di sini aku pun merasakan kepedihan yang sama. Belum diikat, eh, si ide udah lepas.

Xu Le masih terus mencari ilham. Ia lalu menonton film di bioskop, jalan2 ke taman hiburan, tapi hasilnya nihil. Dalam keterpurukannya, ia teringat 2 orang sahabatnya semasa sekolah. Sahabat yang menjadi pembaca pertama novelnya. Salah satu pesan temannya menurutku sangat keren. Katanya, "Teruslah menulis! Mungkin inilah satu-satunya cara bagimu untuk bersuara keras pada dunia."

Seorang bibi yang menambah stok cemilan di kamarnya tanpa sadar memberinya inspirasi. Ia ingin menjadi sopir taksi. Dia pastinya akan banyak mendapat potret kehidupan dari obrolan dengan penumpangnya. Di dalam mobil sudah ia siapkan kertas dan pulpen untuk mengikat setiap ide yang masuk. Saat menjadi sopir itu ia tersadar, ternyata menjadi pengamat dan mengamati, serta masuk ke kehidupan orang lain itu susah juga. Namun psikiater yang menjadi tempat ia menumpahkan banyak tanya menasehatinya, "Yang penting kau harus memahami. Menyelami semua yang kau lihat.

Huff.. Huff.. Capek... Udahan aja ah ceritanya. Ini jurnal udah panjang juga kan yaa? Intinya sih suka sama 2 episode pertama ini. Entah episode selanjutnya bagaimana. Khawatir terlalu dramatis dan nggak lagi menceritakan likaliku seorang penulis. Biasanya drama yang lain begitu, kan? Pastinya drama ini memang mengangkat tema cinta dan persahabatan. Bagi para nokturnal, silakan menonton drama ini. Di sini Vic Zhou berperan cukup baik sebagai seorang penulis. Dan dia, emm, terlihat so cute! Hohoho....

sinopsis w.t.s.y.a

Berkisah tentang Xu Le (Vic Zhou), penulis novel bestseller yang tak pernah meninggalkan rumah.
Belakangan, ia mengalami kebuntuan ilham dan berniat mencari informasi. Ia lantas bekerja sebagai sopir taksi dengan harapan mendapat inspirasi dari obrolan dengan penumpang yang diangkutnya.

Secara tidak sengaja, Xu Le bertemu Ah Hao (Ken Zhu), teman sekelasnya semasa SMA yang juga sopir taksi. Pertemuan ini mengingatkan akan kenangan pada Lu Yi (Terri Kwan), teman sekolah yang sempat mereka perebutkan.

Lu Yi yang kini menjadi redaktur mode di sebuah majalah, juga menjadi incaran Ma Yong Rui / Xiao Ma (Kingone Wang), pewaris hotel bintang lima yang dulu juga satu sekolah. Suatu hari, Xu Le berkenalan dengan Pan Neng Xian (Michelle Chen) yang menjadi penumpangnya.

Meski anak orang kaya, Neng Xian yang fresh graduate memilih mencari uang sendiri dengan bekerja sebagai PR assistant di hotel milik Xiao Ma. Xu Le yang awalnya hanya berniat mencari inspirasi, kini dihadapkan pada konflik cinta dan persahabatan.

my w.t.s.y.a

Xu Le (許樂) is a bestselling author who never left home. He was recently struck with a case of writer's block and decides to search for inspiration. So he decides to work as a taxi driver hoping that by listening to his passengers; he'll be struck with some inspiration. Coincidentally, Xu Le meets his high school classmate, Ah Hao (阿豪), who is also a taxi driver. Xu Le has not seen Ah Hao for years. Ma Yong Rui (Xiao Ma - 小馬) is an heir to a five-star hotel and is also Xu Le's and Ah Hao's old classmate. Lu Yi (陸怡) is now a fashion magazine editor and she was the dream girl that they all wanted. Pan Neng Xian (潘能賢) is a 24 year old girl who recently graduated from college, who gets a job as a PR assistant in Yong Rui's five-star hotel.

Cast


Extended Cast


puisiku

kjhdlkhsfliwshflqw

Rabu, 16 November 2011

A little write"Wish to See You Again"

I'm currently watching this drama.
What I really like about this drama is the way they make it beautiful... okay I'm not talking about the cast I'm referring to the various locations  they show us. Seriously I've been thinking back then I haven't seen anything like this. I've been wondering too if Taiwan really have beautiful place to go... but after watching this drama I've put Taiwan on the list in my traveling list... wish to see more like this soon.

So is this drama okay for me? yes... I think so since I'm still watching it so I'll say it's great. Guess what make you wanna watch it... all the cute guys are there... Vic Zhou, Ken Chu, Kingone Wang, Vannese Wu.... and yeah the female lead is cute too... I should say perfect match... I'm not bias but Vic and Chen Yan Xi really look cute together...





I'm still trying to finish it... so i don't really know how the ending will be... all i can say is...  I'm quite satisfied.


I quoted this reviews from Andy Chrono:
The reason why I quoted it is because I'm agreed with the writers in various way... what I thought and what I want to say been written greatly by the writer so what's the point of writing more if there is someone else who pointed it perfectly... I'm not copying it I just quoted it and that's mean I really admired the writer. All I add here is the pic. ^^ 
Wish To See You Again

Reviewed by: AndyChronoDetails (Spoiler Warning!):
A. Characters:


 Vic Zhou as Xu Le 
Xu Le is a best-selling author struggling with a bad case of writer's block. Growing up as an orphan, he naturally developed an introverted personality, making him seem weird at times and awkward when interacting among other people. He has only two friends in his life: Xiao Ma and Ah Hao. To put it succinctly, this is the best character in the series. He's complicated and has great depth for the actor to explore. Vic Zhou does an incredible job here, as every little facial feature is performed flawlessly. The awkwardness and weirdness is pulled off with just enough weight to give it credibility without going too over-the-top to the point where it's no longer believable.

Chen Yan Xi as Pan Neng Xian 

Basically the girl next door. Some may complain that this is a cliche or stereotype. This is a fair criticism but the reality is that most young women in Taiwan probably have a very similar life to the Neng Xian character: just out of college, trying to find a job via internship, exploring dating, etc. Thus I personally have no problem with common characters like this because they represent reality. Michelle Chen fits the role like a glove. First off, she looks the part of the girl next door. Secondly, she doesn't overdo some of the funny or serious moments but instead strikes the right balance so that it's entertaining while still believable in the context of the girl next door.

Ken Zhu as Ding Yu Hao 

At first, I thought it would be another "friend who disappeared and suddenly came back" character. But the underlying reasons for his disappearance is hinted and then explored very well. I won't reveal too much here, but suffice to say the character's background is complicated and interwoven very well with the other main characters. As for Ken Zhu, I personally found him to be the only weak link among the main actors. He doesn't express the character's tortured past and shame very well, and does a bit too many blank stares from time to time. The only difference between his various emotions was the loudness of voice. Ken didn't do a very good job of communicating through the eyes and facial features and body language.


Kingone Wang as Ma Yong Rui 

The character is a standard one: the sibling that is always compared to and falls short of the standards set by his older sibling. While certainly cliche, it's also a character type that represents reality. Most people with siblings have probably had some kind of rivalry or comparison done by parents or others. Xiao Ma here plays a manager of a 5-star hotel run by his older brother. Kingone does an excellent job in showing us the upbeat and casual Xiao Ma. He's also excellent in the sobering scenes. Suffice to say this guy has come a long way since Devil Beside You.


Terri Kwan as Lu Yi 

Childhood classmate of the three friends Xu Le, Xiao Ma, and Ah Hao. Was the school beauty that all the boys wanted to date. Now works at a news company. She has ties to all 3 friends which are slowly explored through the story. The Lu Yi character is the hub around which the three friends turn. Their relationships toward her and one another change dramatically over the course of the show. She can thus be labeled as the catalyst or driving force behind a significant portion of the show's plot. This kind of character is the most difficult to express. Because of the constantly changing relationships, one has to switch between the full range of emotions through the show. Terri Kwan does an excellent job here. There are a lot of crying scenes, but I was pleasantly surprised that she didn't pour on sacchrine to the point where it was cringe-worthy. All-in-all a great showing.

 
Ji Qin as Pan Neng Zhen 

Plays the eldest sister in the Pan family. Loves Ah Hao but is too shy to admit it to him. She is a huge fan of Xu Le's novels but only knows him under his pen name of Ye Zi. The Neng Zhen character exists primarily to help develop the character of Ah Hao throughout the show as a new love interest. The role is relatively small compared to the 5 other leads, but Ji Qin does a good job at playing out the changes that the character goes through: changing froma shy and sheltered girl to one who isn't afraid to go out into the world. Again, somewhat cliche but at the same time realistic and relatable.


Supporting Cast:
The entire supporting cast is superb. You have the hilarious boss of the taxi company who loves to ask his drivers to bring him back any good food they find. Xiao Ma's brother who exudes a calm and serious demeanor of a general manager. The Pan family parents who run a Chinese medicine clinic. Vanness Wu's guest star role as Leo is hilarious but not overdone to the point of ridiculousness. I also want to make special mention of the 3 actors who play the younger versions of Xu Le, Xiao Ma, and Ah Hao. They develop the personalities of the characters flawlessly, as you can see the seeds of why their adult versions are the way they are and why they make certain decisions in certain situations.
Character Summary: 
The best part of the characters in the show are that they are all realistic and relatable. Some like Neng Xian (Nancy) are straight out girl next door types. Some are more eccentric like Xu Le, but they all have qualities the viewers can relate to. There are no over-the-top characters (e.g. anything with Mike He) that while entertaining once in a while, are completely in a different universe. Furthermore, the main characters are all good people with flaws. Their successes and failures are due to their various strengths and weaknesses. This creates a stronger connection with the audience, as you can really root when they succeed, and you really feel for them when they come up short.
B. Plot/Story  
I won't give away the plot, but I'll say that it has similar qualities to that of the characters: realistic and relatable. Nothing absurdly crazy happens. Everything that happens could really happen in real life, which in my opinion strenthens the dramatic impact. There are a couple "buys" we have to accept in order to set up the initial situation and get the ball rolling. However these come early on so you don't get deus ex machina situations at the end. These is a near "kiss of death" cliche near the end but I personally thought that they did an excellent job resolving that without resorting to ultra-weepy scenes with cringe-worthy dialogue. That section is handled in a very adult manner which suffice to say is a rarity in Taiwanese drama. The final thing about the plot is that it weaves in a bunch of tourist attractions in Taiwan (more on this below) and it does it very well. All in all, the plot does an excellent job of weaving the characters together in a belieavable story and also including some beautiful locations for them to go.
C. Music/Soundtrack  
Usually, Taiwan dramas if anything have excellent music. This one has one of the best drama soundtracks I've heard. The opening track "Waiting Here For You" by F4 is catchy and easy to sing along with. There are other tracks used for various moments, and you will recognize them during the show. Lu Yi's moments have a particular song. The 3 friends have their song. Xu Le and Neng Xian have their own songs. I can't find fault with any of the songs as not only are they good songs but they are used effectively to enhance the show instead of distract or detract from it.
D. X-Factors  
The biggest X-factor is definately the scenery. This show was partially funded by the Taiwan tourism bureau, and they masterfully incorporated some of the big tourist attractions like Ali Mountain, Toroko Gorge, Sun Moon Lake, and the Taipei 101. There's some great shots in the show, and I marvelled at how they managed to wrap a believable story involving all of these places. I also want to add points for being realistic with the characters and plot. In an age where over-the-top stuff is the norm, this show was a breath of fresh air. Sometimes less is more, and the realism strengthens the dramatic impact and lessons of the show.
E. Summary/Conclusion  
Wish To See You Again is one of the best contemporary Taiwan dramas. It features realistic adult characters in a realistic story. None of the exaggerated stuff that Taiwan normally puts out. It provides a clear look into life in Taiwan through the characters and shows off many of the beautiful tourist attractions there throughout the story. The music is great and enhances the experience. You grow to care for the characters, as they are all good people trying to succeed, but flawed so that they are tested along the way. This is due in no small part to the actors, who give excellent performances. The plot develops all the main characters very well, including back story and changes through the show. The final resolution is handled nicely as what would normally be a horrible cliche in any other drama is resolved in an adult manner. This one hits all the right notes. I highly recommend you see it if you haven't already.



sepucuk surat disenja sunyi

“Nura, mau kemana lagi kamu?” teriak Mama dari dalam kamarnya yang pintunya sedikit terbuka. “A…aku… biasa lah, Ma. Kayak nggak tau aja,” jawabku tergagap sambil melayangkan kamera SLR Sony Alfa 200 kesayanganku yang kubeli sekitar 3 tahun lalu. Aku yakin Mama pasti akan melarangku untuk memotret lagi. Karena, entah kenapa, dia agaknya kurang begitu suka melihat hobi memotretku. Namun kali ini berbeda, tanpa perlu aku meminta izin dan bersusah payah memohon-mohon untuk diperbolehkan memotret olehnya, beliau langsung begitu saja mengizinkanku pergi. “Baiklah. Tapi ingat, pulangnya jangan sampai larut!” katanya setelah melihat tampangku yang agak memelas. “Oke, Ma. Makasih ya, Ma,” seruku sambil mencium kedua pipi Mamaku, lalu kemudian bergegas pergi sebelum Mama berubah pikiran. Aku sengaja tak mengungkit ketidaksukaan Mama tentang hobi memotretku. Karena seperti yang kukatakan tadi, aku takut ia berubah pikiran. Akhirnya, sampailah aku ke tempat tujuanku, Taman Cinta—orang-orang biasa menyebutnya begitu, mungkin karena taman ini selalu didatangi oleh pasangan yang sedang memadu cinta. Tapi kalau menurutku wajar saja. Taman kan memang identik dengan tempat kencan. Aku menuju ke sudut taman yang agak sepi. Taman itu memang lumayan besar sehingga masih tersedia beberapa ruang tersisa yang tidak digunakan oleh para pasangan yang sedang memadu kasih. Satu per satu kupotret objek yang kurasa bagus. Seperti pemandangan taman yang luas dengan pohon-pohon yang rindang dan daun berserakan, sangat natural. Ada juga sepasang kekasih yang sedang duduk berdua di bangku taman di bawah pohon yang terlihat sangat sejuk, burung-burung yang hinggap di pohon, matahari di sore hari, langit kemerahan, dan sebagainya. Tak terasa tiga jam telah berlalu sejak aku mulai memotret. Hasil potretanku pun sudah cukup banyak samapi akhirnya kuputuskan untuk pulang. Matahari sudah mulai bosan menampakkan cahayanya. Perlahan-lahan ia pun pergi, menghilang dibalik bayangan atap-atap perumahan, dan seketika alam berubah menjadi gelap. Namun tak lagi gelap ketika perlahan-lahan sang bulan muncul dan menyinari dunia yang seketika gelap. Indah sekali. Tanpa pikir panjang, kuraih kembali kameraku dan menengadahkannya keatas sampai cahaya bulan serta keindahan alam pada malam hari terpatri dalam layar kameraku. Dan… satu gambar lagi kudapatkan hari ini. “Mer, look at my new pics in nature! Cool isn’t it?” Kutunjukkan gambar baruku kepada Mercy ketika kulihat ia sudah duduk di kursinya. “Yeee, bukannya nyapa gitu, malah langsung nunjukkin foto. Tapi, boleh juga dilirik,” serunya riang dengan senyuman khasnya yang paling kusuka. Mercy mulai melihat dengan cermat hasil tangkapan gambarku kemarin sore. Mercy memang tidak bisa memotret, tapi ia tahu ilmu-ilmu dasar memotret. Makanya setiap aku mengambil gambar baru, aku selalu menunjukkan hasil tangkapan gambarku padanya. “Bagus nih, Ra. Yang ini. sini deh,” katanya setelah beberapa menit melihat-lihat hasil tangkapan gambarku. “Anglenya keren banget.” Katanya lagi. Aku yang sedang menikmati sarapanku langsung menoleh melihat ke layar kamera SLR Sony Alfa 200 ku kesayanganku dan melihat gambar yang di maksud oleh Mercy. “Yang itu?” tanyaku dengan mata melotot saking kagetnya. Aku tersedak makananku saking kagetnya. Mercy yang refleks melihatku tersedak makanan langsung mengambilkan botol air minumku yang kuletakkan di sudut meja. “Kenapa, sih lo? Sampai keselek gitu. Ada yang salah sama gambar ini? bagus, lho.” Mercy memandangku dengan tatapan aneh namun curiga. Astaga! Aku lupa menghapus foto itu. Omigod! Jangan samapi Mercy menyadari siapa yang ada di dalam foto tersebut. “Ng… nggak ko. Gue nggak apa-apa,” jawabku, tentu saja aku berbohong. Namun seperti bisa membaca pikiranku, Mercy sepertinya mulai menyadari siapa yang ada di dalam foto tersebut. “Ra, entah kenapa, kayaknya gue kenal dia, deh. Tapi dimana ya? dia tuh familiar banget. Walaupun lo ambil anglenya dari samping, tetap aja gw yakin kalo gw ngerasa kenal sama dia.” Omigod! Bener kan apa yang kukatakan barusan. Mercy pasti menyadarinya. Ya Tuhan, jangan sampai dia tahu siapa orang itu. “Aha! Ini Raka kan, Ra? Gue yakin banget ini pasti Raka. lo motret bareng dia kemarin sore? Gimana bisa? Ceritain dong? Tapi… bukannya lo bilang lo malu kalo ketemu dia? Tapi kok…” belum sempat Mercy melanjutkan cerocosannya yang membuat beberapa mata anak-anak di kelas teralih kepada kami, langsung saja kubekap mulutnya—tentu saja setelah aku menghabiskan makananku yang terakhir. “Diem! Nggak usah nyebut merk bisa nggak, sih? Untung orangnya belum datang. Dan lebih untungnya lagi, nggak ada anak-anak yang merhatiin kita! Setelah gue lepas tangan gue, lo harus diem ya? nggak usah ngomong. Biar gue yang jelasin. Oke?” Mercy mengangguk. Mukanya mulai memerah karena nggak bisa bernapas. Matanya terbelalak. “Inget ya, setelah gue lepasin bekapan gue, lo diem, nggak usah ngomong soal ini. Oke?” dan anggukannya pun aku anggap sebagai tanda persetujuan. “Ta… tapi, Ra… gi…” namun kali ini aku tak perlu bersusah payah untuk membekap mulutnya. Karena baru saja Pak Moko masuk ke dalam kelas, dan itu berarti pelajaran dimulai. Dan artinya lagi, kita nggak boleh berbicara, mengobrol, bercanda, atau bahkan mengeluarkan suara sedikitpun—tentunya pembicaraan yang tidak sesuai dengan pelajaran—saat pelajaran berlangsung. “Ra, gimana ceritanya? Katanya mau ceritain ke gue? Ayo, dong. Gue nggak sabar, nih. Lo bikin gue penasaran banget, tau. Gimana bisa lo jalan bareng Rak… eh maksudnya dia? Tapi itu beneran Rak… eh maksudnya, itu beneran dia, kan?” Mercy memulai lagi cerocosannya yang tak henti-hentinya disodorkannya mulai dari istirahat jam pertama, istirahat jam kedua, dan saat ini, sepulang sekolah. “Aduh, Mer. Nanti aja ya ceritanya? Gue juga bingung soalnya mau mulai darimana. Oke, sayang?” jawabku kepadanya yang sepertinya tidak puas dengan jawabanku. “Tapi jangan lama-lama ya mikirnya?” tanyanya. Aku pun mengangguk. “Beneran?” tanyanya lagi. Aku pun mengangguk lagi. “Jangan ngangguk melulu kenapa, sih. Jawab iya, dong!” bentaknya kepadaku, kesal karena aku terkesan tidak menaggapinya. “Iyaaa!!!” teriakku di depan wajahnya. “Puas?” lanjutku lagi sambil berjalan secepat mungkin, menjauh darinya. Hari ini motret kemana, ya? hmm… oh iya, Danau dekat rumah Oom Burhan. Kok bisa sampai lupa, ya? padahal kan tempat itu udah termasuk di dalam planning. Aduh! Dasar pikun! Baterai, tali kamera, tripod, laptop, USB, udah siap. Apa lagi ya yang belum? Ah gue rasa udah cukup lah. Tapi kayaknya masih ada yang kurang. Apa ya? Handphone! tuh kan,penyakit luap datang lagi. Tapi dimana ya Handphoneku? Halo… HP, dimanakah, kau sekarang? I’m looking for you. Nah, ini dia. Tapi sejak kapan aku nyimpen HP di laci? Ah udahlah, nggak penting juga. Yang penting sekarang semuanya udah siap. Dan… ada SMS? Dari siapa ya? Raka! wow… sejak kapan dia mulai mengirim SMS untukku? Tunggu! Sejak kapan juga dia tahu nomor aku? Ih wow! Tanpa banyak mikir, kubuka SMS itu. Ra, kalo ada waktu, bisa ga kita Ketemuan di Taman Cinta? Ada yg mau gw omongin. Jgn lupa, ya. hari ini… Mon, 1 Jun 2009. 13.36 Hah? Raka ngajak gue ketemuan? Mau ngapain ya dia? Hmm… temuin apa nggak ya? temuin aja, deh. Tapi sekarang udah jam 14.05. kalo nggak salah tadi Raka ngirim SMS sekitar jam setengah dua, deh. Wah bener! Aku harus cepat! Ya Tuhan, mudah-mudahan Raka masih nungguin aku. “Ma, aku pergi ya. Assalamualaikum…” Aku pamit kepada Mama tanpa tahu dia ada atau tidak. Dan ketika ku membuka pintu rumah, kulihat Raka berdiri di ambangnya, masih memakai seragam sekolah, dan tersenyum kepadaku. “Hai, Ra. Baru bangun tidur, ya? sampai nggak sadar gitu ada SMS dari gue. Apa SMSnya nggak sampai?” tanyanya santai dengan suaranya yang berat tapi tetap terasa lembut di dengar. “Oh… iya…iya maaf ya. Tadi gue nyiapin perlengkapan buat motret hari ini. lagian gue juga lupa dimana tadi gue taruh HP gw. Maaf ya. Lama ya nunggunya? Segala datang ke rumah gw lagi. Maaf banget, ya.” Aduh! Kenapa dia mesti datang kesini, sih? Jadi nggak enak hati aku. “Nggak apa-apa, lah. Lagian gue cuma mau kasih ini, kok ke lo. Mungkin gue aja yang lebai kali ya? hahaha” katanya sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat besar kepadaku. “Jangan dibuka sekarang!” serunya ketika hendak membuka amplop berwarna cokelat itu. “Tolong buka amplop itu kalo lo lagi nggak sibuk. Gue nggak mau ganggu lo aja,” lanjutnya lagi. “Oh. Oke,” jawabku singkat. Kira-kira apaan ini ya? ya Ampun, Raka… saat-saat seperti inilah yang kuharapkan selama ini. bisa berbicara berdua lagi seperti dulu bersama kamu. Sayang, kamu terlalu popular untuk mau berbicara denganku yang tergolong Cupu. “Nah, sekarang gue pergi dulu, ya. dah…” “Lho, nggak masuk dulu?” “Nggak usah lah, kapan-kapan aja. Bye, Nura…” “Bye, Raka…” Wow! Raka… ya ampun, lama banget kita nggak ngobrol bareng, tapi sekalinya ngobrol—walaupun sedikit—kamu langsung kasi ini ke aku. Buka sekarang apa nanti ya? hmm… nanti aja, deh. Sekarang mumpung perlengkapan motret udah siap, aku motret dulu aja. Lagian tadi Raka bilang aku nggak harus buka amplop itu sekarang. Namun, baru selangkah menuju pintu gerbang rumah, tiba-tiba handphoneku berdering. Ada panggilan dari Mercy. Ada apa ya? nggak biasanya dia nelepon. Palingan SMS. Ah mungkin dia cuma mau tanya soal foto-foto di Taman Cinta kemarin. Males ah angkatnya. Namun Mercy nggak jera untuk terus menelepon. Akhirnya karena nggak sabar aku angkat juga telepon dari dia. “Ada apa sih, Mer? Gue mau pergi, nih! Nanti aja deh di sekolah kalo mau denger cerita tentang foto-foto itu!” Aku berkata dengan ketus kepada Mercy yang belum sempat berkata apa-apa. “Ra, gue bukan mau denger cerita tentang foto itu, kok. Gue cuma… gimana yah? Lo ke rumah Raka sekarang, deh. sekarang juga. Nggak usah motret! Sekarang juga ke rumah Raka. Oke?” dan telepon pun terputus. Mercy? Kenapa ya dia? Dari nadanya kedengarannya dia sedih banget. Terus ngapain juga dia nyuruh aku ke rumah Raka? Ada apa sih, sebenarnya? Sesampainya dirumah Raka, kulihat banyak orang berkerumun disana dengan memakai pakaian serba hitam. Aku pun melihat bendera kuning di kejauhan terpasang. Siapa yang meninggal? Salah satu anggota keluarga Raka? Tapi siapa? Setahuku Raka seorang anak tunggal yang tinggal memiliki Ayah 5 tahun yang lalu. Dan kupikir Ayah Raka itu adalah sosok Ayah yang gagah, yang masih kuat. Jadi nggak mungkin Ayah Raka meninggal. Lalu siapa? Jangan-jangan… nggak mungkin! Saat itu pula aku melihat Mercy yang juga memakai pakaian serba hitam berlari menuju kearahku lalu seketika itu juga memelukku erat-erat sambil berlinang airmata. “Ra… Raka… Raka… Raka meninggal, Ra. Raka udah pergi ninggalin kita semua. Sabar ya, Ra,” ucapnya tersedu-sedu dan terus mendekapku makin erat. “Nggak mungkin! I…ini… barusan dia…” seketika itu semua organ tubuhku terasa lemas. Amplop cokelat yang masih kupegang erat ditanganku saat itu juga terlepas dari pegangannya. Mataku mulai terasa gelap, dan semuanya berubah menjadi hitam… sepertinya aku pingsan. “Lho, Nura… Nura… bangun, Ra! Nura…” “Ini…” kataku kepada Mercy dan Ayah Raka, Oom Kardi setelah aku sadar dari pingsanku. “Aku belum sempat membukanya. Bisa tolong dibukakan?” lanjutku lagi. “Oh, oke…” jawab Mercy. Kulihat Mercy membuka amplop pemberian raka itu dengan sangat hati-hati. Kemudian ia mengeluarkan semua isi amplop tersebut. Ada album foto, dan sebuah surat… Kusuruh Mercy membacakan surat itu. Dear Nura… Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk mengenalmu, izinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk melihatmu, izinkan aku untuk terus memperhatikanmu…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk bersamamu, adakah kau bersedia memeluku didekapmu?Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk menjagamu, izinkan aku untuk terus berada disampingmu…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk hidup di dunia, izinkan aku mengucapkan kalimat terkhirku untukmu,Aku menyayangimu…Salam Sayang Raka Mercy memberikan hadiah terakhir pemberian Raka kepadaku. Album Foto yang berisi kumpulan foto-foto kami sewaktu kecil, sampai foto-foto terakhirku yang bisa diambilnya. Jadi, Raka juga suka fotografi? Dan selama ini dia masih memperhatikanku sampai-samapi ia memiliki foto-fotoku dalam berbagai pose. Mengapa aku tak pernah menyadarinya? Raka, izinkan aku menulis surat cinta untukmu, sebagai balasan atas surat cinta yang kau berikan untukku. Dear RakaAndai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan kau mengenalku lebih jauh…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan kau untuk terus memperhatikanku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan diriku memelukmu erat dalam dekapanku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan dirimu terus berada disampingku dalam sedih dan dukaku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama untuk hidup di dunia, akan kukatakan,Aku juga menyayangimu…Salam Sayang Nura Hari ini di senja yang sunyi di Taman Cinta, kubiarkan surat itu pergi bersama pesawatnya. Kutujukan surat itu untukmu, Raka… agar kamu tahu bahwa aku juga mencintaimu. Goodbye, Raka…